Senin, 26 November 2012

NAMA YANG DIHAPUS DARI KITAB KEHIDUPAN


Pendahuluan

Lukas 10:20, “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” LAI

Luke 10:20, “Notwithstanding in this rejoice not, that the spirits are subject unto you; but rather rejoice, because your names are written (ditulis) in heaven.” KJV

70 orang murid diutus Tuhan Yesus sebagai ‘pasukan pendahulu’ ke kota-kota yang akan Ia datangi kemudian. Kepada mereka Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk menyembuhkan orang-orang sakit dan kuasa untuk menaklukkan iblis dan malaikat-malaikatnya (Lukas 10:1-19). Beberapa waktu kemudian, sekembalinya para murid dari kota-kota ke mana mereka diutus, dengan penuh sukacita memberikan laporan dan kesaksian pada sang Guru bahwa setan-setan (roh-roh jahat) takluk pada mereka demi nama Yesus. Walaupun laporan dan kesaksian mereka memang sudah sewajarnya mendatangkan sukacita, namun Tuhan Yesus mengajar dan memperingatkan agar para murid bersukacita bukan karena takluknya setan-setan melainkan karena nama mereka terdaftar di Kerajaan Sorga (dalam kitab kehidupan).
Mengapa? Karena terdaftarnya nama mereka di Kerajaan Sorga sangat jauh bernilai/ berharga daripada takluknya roh-roh jahat. Mengapa? Karena bila nama mereka terdaftar dalam kitab kehidupan maka mereka memiliki hak untuk mendapat tempat di Kerajaan Sorga.

Catatan: Di sisi lain, bagi mereka yang namanya ditulis dalam kitab Kehidupan memiliki hak dan otoritas kerajaan. Salah satu hak dan otoritas tersebut adalah menggunakan nama Yesus. Iblis dan malaikat-malaikatnya tidak akan takluk pada mereka yang tidak memiliki hak dan otoritas tersebut. Ketujuh anak Skewa adalah contoh dari orang-orang yang tidak mempunyai hak dan otoritas untuk menggunakan nama Yesus namun mencoba mengusir setan dengan nama Yesus, akibatnya mereka yang dikalahkan oleh setan/roh jahat (Kisah Para Rasul 19:13-17).

Secara sederhana, dari kalimat Yesus tersebut kita mengetahui bahwa ada hal-hal yang lebih bernilai/berharga yang atasnya kita patut bersukacita. Tanpa kita sadari, seringkali, sukacita kita “salah tempat”. Tuhan Yesus tidak menyatakan bahwa bersukacita atas takluknya setan-setan sebagai sebuah dosa. Tuhan Yesus hanya memperingatkan agar para murid bersukacita atas alasan yang tepat. Raja Salomo jatuh dalam dosa perzinahan rohani pada masa tuanya (1 Raja-raja 11:4-8). Hal itu terjadi karena ia bersukacita pada tempat yang salah. Salomo bersukacita karena dengan hikmat Allah banyak masalah dan misteri kehidupan yang terpecahkan (apalagi hikmat yang ia peroleh kapasitasnya tak tertandingi di antara manusia di muka bumi pada waktu itu, bahkan sampai hari ini, 1 Raja-raja 3:12; 4:29). Seharusnya Salomo bersukacita karena Tuhan berkenan kepadanya sehingga doanya minta hikmat dikabulkan. Akibat yang fatal dari sukacita yang salah tempat adalah kecenderungan untuk tidak memelihara yang seharusnya dipelihara. dan ini sebuah kelengahan. Bila Salomo bersukacita atas perkenan Tuhan maka ia akan memelihara perkenan Tuhan tersebut dengan cara hidup sesuai jalan-jalan yang ditunjukkan Tuhan. Hal yang sama juga terjadi pada raja Saul dan hakim Simson. Keduanya bersukacita atas alasan yang tidak tepat, sehingga mereka juga tidak memelihara yang seharusnya mereka pelihara. Keduanya bersukacita karena memperoleh jabatan dan pengurapan yang khusus dari Tuhan. Walaupun akhir hidup hakim Simson lebih baik dari raja Saul, namun pada dasarnya mereka tidak mengakhiri “pertandingan” yang mereka tempuh dengan baik.

Ketika Tuhan Yesus memperingatkan ke-70 murid tentang kebenaran ini, Tuhan Yesus mencegah mereka melakukan kelengahan yang sama dengan Salomo, Saul maupun Simson, yaitu kelengahan yang membawa mereka pada kejatuhan. Tuhan Yesus ingin para murid bersukacita bukan karena prestasi pelayanan melainkan karena nama mereka ditulis dalam Kitab Kehidupan. Dengan demikian para murid akan memelihara keberadaan nama mereka dalam kitab kehidupan. Mengapa? Karena ada sebuah fakta yang sekaligus sebuah kebenaran, bahwa nama seseorang yang tadinya sudah ditulis dalam kitab Kehidupan bisa saja suatu saat dihapuskan.

Nama yang Dihapus

Filipi 4:3, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (LAI)

Sama seperti Yesus, yang begitu mengerti betapa pentingnya bila nama kita telah ditulis dalam kitab kehidupan, demikian juga Paulus. Hal itu terlihat pada salah satu ayat dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Filipi. Paulus menyebutkan bahwa rekan-rekan sekerjanya adalah orang-orang yang telah berjuang dalam pekabaran Injil, juga yang namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Paulus bukan hanya menyebutkan prestasi pelayanan rekan-rekan sekerjanya saja tetapi juga keberadaan nama mereka dalam kitab kehidupan. Prestasi kita dalam pekerjaan Tuhan tidak bisa dibandingkan nilainya dengan keberadaan nama kita dalam kitab kehidupan (bukannya Tuhan tidak menghargai apa yang telah kita lakukan dalam pekerjaan-Nya, bahkan Tuhan telah menyediakan di Kerajaan Sorga upah dan hadiah bagi kita yang telah menyelesaikan pekerjaan-Nya). Karena bila kita memperhatikan beberapa ayat di bawah ini, kita akan melihat sebuah indikasi bahwa bisa saja suatu saat, oleh karena suatu sebab, nama kita dihapus dari Kitab Kehidupan:

Mazmur 69:28, “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!” LAI

Wahyu 3:5, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” LAI

Wahyu 22:19, “Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” LAI

Wahyu 3:5, “Kepada mereka yang menang akan dipakaikan jubah putih. Nama mereka tidak akan Kuhapuskan dari Buku Orang Hidup. Dan di hadapan Bapa-Ku dan malaikat-malaikat-Nya Aku akan mengaku bahwa mereka adalah milik-Ku.” LAI

Wahyu 3:16, “Tetapi kalian suam-suam kuku; panas tidak, dingin pun tidak. Itu sebabnya kalian akan Kumuntahkan keluar dari dalam mulut-Ku.” LAI

Catatan: Bila dikatakan seseorang dimuntahkan keluar dari mulut Tuhan Yesus, itu artinya, tadinya orang tersebut ada di dalam Tuhan Yesus. Dengan kata lain orang tersebut namanya dihapus dari kitab Kehidupan. Apapun sebabnya, bila nama seseorang dihapus dari kitab kehidupan maka ia tidak akan lagi memiliki hak untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, dan lebih lagi orang tersebut juga kehilangan upah dan hadiah yang telah disediakan Tuhan baginya. Dengan demikian, apa gunanya segala jerih lelah & prestasi pelayanan kita?

Tiket Masuk Surga

Dari beberapa waktu lalu hingga saat-saat ini, di bawah atap bait Allah, kita melihat beberapa umat Tuhan bahkan lembaga-lembaga pelayanan juga gereja bagaikan sebuah uang koin yang mempunyai dua sisi, di mana kedua sisi mempunyai ‘wajah’ yang berbeda. Sehingga ada gereja yang di satu sisi nampaknya begitu berkembang pertumbuhan jemaat dan pelayanannya namun di sisi yang lain, roh dominasi dan intimidasi serta roh cinta uang mempunyai tempat yang luas bekerja di gereja tersebut.
Di satu sisi ada seorang yang memiliki predikat hamba Tuhan dengan karunia kesembuhan yang luarbiasa sehingga banyak orang disembuhkan, namun di sisi lain hidup dalam perzinahan. Dengan kata lain, di satu sisi memiliki prestasi pelayanan yang luarbiasa namun di sisi lain ada hal-hal yang mendukakan hati Tuhan yang terus dikompromikan. ‘Virus uang koin’ ini nampaknya telah begitu menjangkiti kita. Keadaan tersebut di atas terjadi karena kita telah bersukacita kemudian bermegah atas prestasi pelayanan kita.

Matius 7:22-23, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” LAI

Ayat-ayat di atas, bisa jadi, adalah nubuat yang dinyatakan Tuhan Yesus. Ada suatu masa di mana ada orang-orang (banyak orang) yang akan menjadikan prestasi pelayanan mereka sebagai “tiket masuk surga”. Namun lucunya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia tidak mengenal satupun dari mereka bahkan menyebut mereka sebagai “pembuat kejahatan”.

Catatan: Kata “kejahatan” dalam bahasa Yunani dipakai kata “anomia” yang artinya pelanggaran hukum; kejahatan; ketidakadilan; perbuatan yang salah; ketidak benaran. Dalam Modern King James dipakai kata “lawlessness” yang artinya: pelanggaran hukum.

Ada 2 pertanyaan besar yang mungkin timbul dalam hati kita:
1. Mengapa Tuhan tidak mengenal satupun dari mereka?
2. Apa yang dimaksud dengan “kejahatan”?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita harus membaca ayat-ayat sebelumnya (ayat 16-20). Dalam ayat-ayat tersebut dikatakan bahwa setiap orang dikenal dari “buahnya”. Seseorang dapat dikatakan sebagai “pohon” yang baik bila ia menghasilkan “buah” yang baik. Demikian pula ketika Tuhan Yesus berhadapan dengan orang-orang yang membawa “tiket prestasi pelayanan”, Tuhan Yesus tidak mengenali mereka dari prestasi pelayanan melainkan dari “buah” yang mereka hasilkan. Dan rupanya Tuhan tidak mendapati bahwa mereka menghasilkan “buah” yang baik sehingga Ia pun tidak mengenali mereka.
Jawaban dari pertanyaan kedua sebenarnya ada hubungannya dengan jawaban pertanyaan pertama. Yang dimaksud dengan “kejahatan” di sini bukanlah prestasi pelayanan yang telah dihasilkan, tapi “buah” yang dihasilkan. Dengan kata lain, orang-orang yang dimaksud ayat 22 dan 23, dalam kehidupan sehari-hari tidak hidup sesuai dengan hukum dan kebenaran firman Tuhan (hidup dalam kejahatan). Di satu sisi mereka memiliki prestasi pelayanan namun di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari mereka menghasilkan buah-buah kejahatan.

1 Korintus 9:27, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” LAI

1 Corintus 9:27, “But I keep under my body, and bring it into subjection: lest that by any means, when I have preached to others, I myself should be a castaway (orang buangan).” KJV

Paulus, rasul Yesus Kristus, adalah seorang yang telah menjangkau banyak jiwa terutama di kalangan non yahudi. Banyak jiwa yang telah dimenangkan rasul Paulus bagi Kerajaan Allah, prestasinya luar biasa. Walau begitu, ada sebuah kesadaran dan pengertian bahwa sekalipun ia telah memberitakan Injil kepada banyak orang, bila ia tidak melatih dan menguasai tubuhnya, maka bisa saja ia ditolak/dibuang Tuhan, namanya dihapus dari Kitab Kehidupan. Kesadaran dan pengertian yang sama seperti Paulus seyogyanya juga ada pada kita, sehingga kita tidak bersukacita/bermegah atas prestasi pelayanan kita, itu semua adalah kasih karunia Tuhan semata, kita harus bersukacita karena nama kita ditulis dalam kitab Kehidupan. Jangan jadikan prestasi pelayanan sebagai tiket kita masuk Surga, tetapi jadikan “buah” atau kehidupan yang benar yang sesuai dengan firman dan kehendak-Nya sebagai tiket masuk Surga.

Dikutip dari sini.

Selasa, 20 November 2012

Pohon di tengah taman Eden


Shalom,
Hampir semua orang Kristen dari anak sekolah minggu sampai orang tua, jika ditanya: Apa pohon yg ada di tengah taman Eden - akan menjawab: pohon pengetahuan tentang yg baik & yg jahat. Itu adalah pohon larangan, & jika dimakan buahnya nanti akan mati. Buah pohon itu yg dimakan oleh Adam & Hawa pada saat jatuh dalam dosa sehingga diusir dari taman Eden. Itulah yg diajarkan oleh para guru sekolah minggu maupun khotbah di gereja.

Akan tetapi sebenarnya di tengah taman Eden bukan hanya terdapat pohon larangan itu saja! Ternyata TUHAN menempatkan satu pohon lagi yg terluput dari perhatian orang Kristen di sepanjang masa, yaitu : POHON KEHIDUPAN!

Kejadian 2:9 Lalu TUHAN ALLAH menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yg menarik & yg baik untuk dimakan buahnya; & pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yg baik & yg jahat.

Jadi di tengah taman Eden, TUHAN menempatkan DUA POHON yg memiliki dua karakter yg bertolak belakang yaitu :

1. Pohon Kehidupan
2. Pohon Kematian (Pohon pengetahuan tentang yg baik & yg jahat)

Pohon Kehidupan

Pohon kehidupan ini sebenarnya jauh lebih penting & berguna daripada Pohon Kematian, karena jika Adam/Hawa memakan buahnya maka mereka akan hidup selama-lamanya.

Kejadian 3:22 Berfirmanlah TUHAN ALLAH: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yg baik & yg jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya & mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu & memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya."

Begitu pentingnya pohon kehidupan ini, sehingga ketika Adam & Hawa diusir keluar dari taman Eden maka TUHAN merasa perlu untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan dengan beberapa malaikat dengan pedang yg bernyala-nyala & menyambar-nyambar agar manusia yg telah jatuh dalam dosa tidak bisa mendatangi & memakan buahnya.

Kejadian 3:24 Ia menghalau manusia itu & di sebelah timur taman Eden ditempatkan-NYAlah beberapa kerub dengan pedang yg bernyala-nyala & menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Jadi yg dijaga oleh malaikat bukan jalan ke taman Eden seperti yg biasa diceritakan oleh guru-guru sekolah minggu, tetapi jalan di sebelah timur taman Eden yg menuju ke pohon kehidupan.

Pohon larangan

Ketika TUHAN memberi perintah mengenai pohon yg ada di tengah taman Eden, ternyata larangan memakan hanya berlaku bagi satu pohon saja, yaitu : pohon kematian (pohon pengetahuan yg baik & jahat), sedangkan buah pohon kehidupan tidak dikenai larangan itu.

Jadi sebetulnya Adam & Hawa diperbolehkan untuk makan buah pohon kehidupan supaya bisa hidup kekal. Akan tetapi apa yg terjadi?

Selama Adam melaksanakan kehidupan awalnya, dengan memberi nama satu persatu bagi binatang-binatang yg datang padanya sampai sesudah mendapat pasangan hidup (Hawa), manusia tidak mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangannya terhadap buah pohon kehidupan. Justru sebaliknya mereka memilih untuk makan buah pohon kematian mengikuti bujukan iblis. Sungguh ironis!

Dua pohon di tengah taman Eden
Mengapa TUHAN menempatkan dua pohon di tengah taman Eden, yaitu pohon kehidupan & pohon kematian? Tujuannya adalah supaya manusia dengan kehendak bebasnya memilih: kehidupan atau kematian. Tentu saja, TUHAN ingin agar manusia memilih kehidupan daripada kematian. TUHAN menciptakan manusia supaya manusia mengasihi ALLAH dengan seluruh kehendak bebas & segenap hatinya, bukan dengan sedih hati atau paksaan.

Akan tetapi yg terjadi justru sebaliknya - Manusia dengan kehendak bebasnya lebih memilih pohon kematian. Manusia memilih kematian daripada kehidupan.

Kehidupan & kematian
Ternyata di dunia ini TUHAN masih saja memberikan dua pilihan seperti pada saat manusia tinggal di taman Eden yaitu : kehidupan & kematian. TUHAN ingin, manusia memilih kehidupan yg diberikan TUHAN dengan kehendak bebasnya, dengan sepenuh hatinya bukan dengan paksaan.

Akan tetapi sejarah manusia membuktikan, bahwa manusia lebih memilih kematian daripada kehidupan.

Kain memilih membunuh Habel, walaupun sudah diperingatkan TUHAN untuk melawan dosa

Manusia seluruh dunia lebih memilih kematian, sekalipun selama puluhan tahun Nuh menyampaikan kabar keselamatan supaya masuk ke dalam bahtera yg sedang dibuatnya.

Bangsa Israel di padang gurun memilih kematian, dengan mempercayai 10 orang pengintai daripada Kaleb & Yosua – sehingga semua laki-laki dewasa habis mati selama 40 tahun di padang gurun.

Musa dengan tegas & jelas menawarkan kepada seluruh bangsa Israel sebelum masuk ke tanah perjanjian : pilihlah kehidupan & kematian, berkat & kutuk. Tetapi bangsa Israel di tanah Kanaan lebih memilih kematian daripada memilih kehidupan yg disampaikan oleh Musa & Yosua, sehingga TUHAN memberikan berbagai hukuman melalui bangsa-bangsa di sekitarnya & menolong melalui para hakim.

Ulangan 30: 19 Aku memanggil langit & bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan & kematian, berkat & kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

Raja-raja Israel memilih kutuk & kematian, sekalipun TUHAN menawarkan kehidupan & berkat yg berkelimpahan. Raja-raja israel memilih kematian dengan sujud menyembah berhala & akhirnya kerajaan Israel harus dibuang ke Asyur & kerajaan Yehuda ke Babel.

Di Perjanjian Baru, TUHAN menawarkan supaya manusia memilih jalan, kebenaran & hidup dengan beriman kepada TUHAN YESUS. Tetapi manusia memilih kematian dengan menyalibkanNYA.

Sampai sekarang di gereja, TUHAN tetap menawarkan kehidupan dengan setia menjadi pelaku Firman TUHAN serta bertahan menang untuk memperoleh mahkota kehidupan. Tetapi lebih banyak orang Kristen yg memilih kematian dengan hidup bertekun dalam dosa & kecemaran hidup serta dengan bangga berkata : sekali selamat tetap selamat.

Alkitab menubuatkan - di akhir jaman sekalipun, pada saat dunia dihukum dengan berbagai-bagai malapetaka & penyakit, TUHAN menawarkan supaya manusia memilih kehidupan dengan bertobat - ternyata manusia tetap lebih memilih kematian dengan tidak mau bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka.

Wahyu 9:20 Tetapi manusia lain, yg tidak mati oleh malapetaka itu, tidak juga bertobat dari perbuatan tangan mereka: mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat & berhala-berhala dari emas & perak, dari tembaga, batu & kayu yg tidak dapat melihat atau mendengar atau berjalan.
Wahyu 16:9 & manusia dihanguskan oleh panas api yg dahsyat, & mereka menghujat nama ALLAH yg berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu & mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.
Wahyu 16:11 & mereka menghujat ALLAH yg di sorga karena kesakitan & karena bisul mereka, tetapi mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka.

Di mana pohon kehidupan
Sekarang, pohon kehidupan bisa ditemui di surga di samping kanan & kiri sungai yg ada di tengah jalan Kota Kudus. Pohon-pohon kehidupan itu berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; & daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Wahyu 22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yg berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; & daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Setiap orang yg memilih kehidupan dengan percaya YESUS sebagai TUHAN & Juru Selamat & setia menjadi pelaku Firman memiliki hak atas pohon kehidupan & masuk melalui pintu gerbang surga.

Wahyu 22:14 Berbahagialah mereka yg membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan & masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.

Saudaraku yg terkasih,
Saat ini, TUHAN tetap menawarkan dua pilihan kepada kita sama seperti pilihan yg diberikan kepada Adam & Hawa, yaitu : kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk. Apakah kita dengan kehendak bebas & sepenuh hati lebih memilih kehidupan daripada kematian, lebih memilih berkat daripada kutuk?

Dengan pertolongan Roh Kudus & kasih KRISTUS, sebaiknya kita beserta keluarga memilih kehidupan supaya kita hidup, baik kita maupun keturunan kita dengan mengasihi TUHAN, mendengarkan suaraNYA & berpaut padaNYA.

Ulangan 30:19-20 Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, ALLAHmu, mendengarkan suara-NYA & berpaut pada-NYA, sebab hal itu berarti hidupmu & lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yg dijanjikan TUHAN ...

Imanuel, TUHAN YESUS memberkati kita semua. Amin.

Sumber: www.facebook.com/groups/yudhaatm/permalink/505411869478272/

Kapan Yesus Lahir?


Sejak pertengahan bulan November, suasana Natal sudah mulai dihembuskan oleh mal-mal besar di kota-kota besar. Pada saat itu gereja mungkin baru membentuk panitia Natal. Seakan tidak mau kehilangan waktu, dunia bisnis, melalui dekorasi pohon cemara bersalju, rusa, dan kereta salju serta bingkisan hadiah memberikan tekanan psikologis kepada calon pembeli untuk segera berbelanja. Suasana serba putih yang diciptakan dari tahun ke tahun membentuk citra bahwa Kristus lahir di musim dingin yang bersalju di kota kecil bernama Betlehem.

Pemandangan demikian jelas tidak sesuai dengan gambaran yang dilukiskan oleh Injil Lukas saat peristiwa besar itu terjadi. Penginjil ini menulis, "Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam" (Lukas 2:8). Sejak zaman Alkitab sampai sekarang, gembala di Betlehem meninggalkan padang penggembalaan di musim dingin dengan berlindung di gua-gua yang disebut Grotto yang banyak terdapat di sekitar Betlehem. Karena malam yang dingin, dalam bulan Desember, apalagi tanggal 25 tidak ada gembala-gembala di padang bersama domba-domba. Biasanya mereka menggiring kawanan domba mereka ke padang setelah hari raya Paskah sampai hujan pertama atau salju tipis di awal Oktober. Ini berarti peristiwa kelahiran Yesus terjadi dalam selang waktu di antara Paskah di awal April sampai awal Oktober.

Usaha untuk mendapatkan tanggal dan bulan kelahiran-Nya yang tepat ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan, sehingga tanggal 25 Desember tetap dipakai sebagai patokan. Alasan yang dikemukakan biasanya, "Tidak ada seorang pun tahu kapan Ia lahir. Karena sudah ada yang menetapkan lebih dulu 25 Desember, maka kita pakai saja, yang penting kita memberikan satu hari dalam satu tahun untuk merayakan kelahiran-Nya." Bagi orang yang mencari kebenaran sejarah, sikap kritis seperti ini belum cukup memuaskan. Penyelidikan di lingkungan Kristen selama ini dilakukan dengan melupakan suatu prinsip penting dalam kehidupan Yesus bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat dan bukan meniadakannya (Matius 5:17). Hal ini berarti semua kejadian penting dalam kehidupan Kristus sudah dinubuatkan oleh Taurat Musa. Dalam hal ini, Hukum Taurat merupakan tolok ukur untuk menunjukkan siapa Mesias yang sesungguhnya akan datang.

Tujuh Hari Raya Tuhan
Hukum Taurat dalam Imamat 23 menetapkan 7 hari raya untuk diperingati dan dirayakan pada waktu tertentu setiap tahun. Hari-hari raya tersebut meliputi Paskah, Roti Tidak Beragi, Buah Sulung, Pentakosta, Sangkakala, Pendamaian, dan Tabernakel. Orang Kristen secara keliru menyangka bahwa semuanya itu adalah hari-hari raya Israel. Firman Tuhan mengatakan, "Hari-hari raya Tuhan yang kamu maklumkan untuk dikuduskan, semuanya itu adalah hari-hari raya-Ku" (KJV). Semuanya itu adalah hari-hari raya TUHAN. Setiap hari raya mengungkapkan satu segi kehidupan Yesus, yaitu Firman Tuhan yang untuk sementara waktu datang ke planet bumi dalam wujud manusia.

Bahwa 7 hari raya tersebut merupakan nubuatan tentang Mesias yang semuanya digenapi secara utuh oleh Yesus dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Paskah (Pesach): Yesus adalah domba Paskah kita. Inilah hari kematian-Nya.
  2. Roti tidak Beragi (Hag HaMatzah): Yesus adalah Roti Hidup, Roti tidak Beragi yang turun dari surga. Ia tidak berdosa karena ragi menyatakan dosa.
  3. Buah Sulung (Sfirat Haomer): Yesus adalah Buah Sulung kebangkitan dari kematian.
  4. Pentakosta (Shavuof): Yesus adalah Pembaptis dengan Roh Kudus.
  5. Sangkakala (Rosh HaShanah): Yesus adalah Mempelai Pria yang menjemput Mempelai Perempuan (Gereja) dalam Pengangkatan Gereja (rapture).
  6. Pendamaian (Yom Kippur): Yesus adalah Mesias orang Yahudi yang datang kedua kalinya. 
  7. Tabernakel (Sukot): Yesus akan memerintah sebagai Raja Damai dalam Kerajaan 1000 Tahun.
Dalam 7 hari raya tersebut, semua segi kehidupan Yesus yang penting sudah diungkapkan dan akan diungkapkan. Kematian dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan dalam Taurat. Pengangkatan Gereja dan Kedatangan- Nya yang kedua telah dinubuatkan dalam 7 Hari Raya, tetapi adakah petunjuk tentang hari kelahiran-Nya? Tentu saja, pada hari raya yang ke-7 yaitu hari raya Tabernakel. Hal ini membentuk suatu pola, kalau hari raya pertama menunjuk pada kematian-Nya, maka hari raya terakhir menunjuk pada kelahiran-Nya; kalau hari raya ke-6 menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua, maka pada hari raya ke-7 menunjuk pada kedatangan-Nya yang pertama.

Hari raya Tabernakel merupakan hari raya yang paling meriah di antara ke-7 hari raya dan disebut juga sebagai Festival Cahaya. Saat itu Bait Suci bagaikan bermandikan cahaya, di Serambi Wanita dipasang 4 kandil pada empat penjuru seakan-akan ingin menerangi bangsa-bangsa. Ini merupakan petunjuk bahwa Terang Dunia itu sedang datang menerangi bangsa-bangsa yang masih berada dalam kegelapan dosa. Hari raya Tabernakel juga merupakan suatu masa raya yang penuh sukacita. Dalam suasana itulah, malaikat datang kepada para gembala di padang bersama kawanan domba mereka dan berkata, "Jangan takut karena sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa" (Lukas 2:10).

Bagaimana Perhitungan Tanggalnya?
Injil Lukas 1:5 mencatat bahwa Zakaria, suami Elisabet, kakak ipar Maria ibu Yesus, menjadi imam dari rombongan Abia. Menurut kitab 1Tawarikh 24:10 rombongan Abia mendapat urutan ke-8 dalam tugas di Bait Suci. Tiap rombongan bertugas rutin satu minggu, dua kali dalam setahun.

Jadwal tugas imam ditetapkan menurut kalender keagamaan yang dimulai dengan bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. Jadi Zakaria bertugas pada pertengahan Mei. Tetapi karena hari raya Shavuot (Pentakosta) jatuh pada akhir Mei dan semua imam diminta bertugas bersama, Zakaria harus menetap di Bait Suci untuk tambahan dua minggu. Akibatnya ia baru pulang ke rumah untuk menemui isterinya pada awal minggu kedua bulan Juni.

Elisabet mulai hamil pertengahan Juni (Lukas 1:24). Pada saat Elisabet hamil 6 bulan, malaikat Gabriel datang kepada Maria, yaitu pertengahan Desember. Maria mulai mengandung saat itu (Lukas 1:36). Walaupun Yesus dikandung dari Roh Kudus (Lukas 1:35), Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan hari raya Tabernakel (Honorof, R.A., 1997, "The Return of the Messiah").

Hari raya Tabernakel setiap tahun pada tanggal 15 bulan Tishri dan dirayakan selama satu minggu. Ini berarti menurut ketentuan Taurat tanggal kelahiran Yeshua HaMashiach (Yesus Kristus) jatuh pada tanggal 15 Tishri menurut kalender Yahudi. Menurut kalender international (Gregorian), pada tahun 1998 tanggal 15 Tishri jatuh pada tanggal 5 Oktober; sedangkan pada tahun 1999 jatuh pada tanggal 25 September. Pada tahun 2000 lalu jatuh pada tanggal 14 Oktober, sedangkan pada tahun 2001 ini jatuh pada tanggal 2 Oktober 2001 lalu.

Kalau begitu, mengapa dunia merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember? Kelahiran Yesus tidak pernah dirayakan sampai tahun 336. Kelahiran-Nya mulai dirayakan setelah kaisar Roma yang bernama Konstantin (285-337) menyatakan diri menjadi pemeluk agama Nasrani. Sudah menjadi tradisi setiap tanggal 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Saturnalia Romawi untuk menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi utara setelah mencapai garis balik selatan. Ketika siang hari menjadi lebih panjang, dewa matahari dianggap telah lahir kembali dan mereka bergembira-ria sambil tukar-menukar hadiah.

Ketetapan untuk mengkonversikan 25 Desember menjadi hari raya Nasrani dengan menjadikannya sebagai hari kelahiran Yesus dilakukan oleh Paus Julius I pada pertengahan abad 4 di kota Roma (Worldwide Church of God, 1985 "The Plain Truth About Christmas"). Ketetapan tersebut tidak dapat diterima oleh gereja-gereja di Yerusalem yang menolaknya sampai abad 6 (Wagner, C. 1995 "Bridges for Peace"). Setelah itu secara tidak resmi umat Nasrani menerima 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, walaupun banyak yang mengetahui bahwa itu bukan tanggal yang sesungguhnya.

Bagaimana Perhitungan Tahunnya?
Kelahiran Yesus jelas harus terjadi sebelum kematian Raja Herodes Agung yang ingin membunuhnya dengan memerintahkan pembunuhan semua bayi berumur di bawah 2 tahun di Betlehem (Matius 2:16). Flavius Josephus (37-100), sejarawan Yahudi abad pertama, mengatakan bahwa sesaat sebelum Herodes meninggal telah terjadi gerhana bulan yang menurut para pakar perbintangan terjadi pada 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi (Antiquities of the Jews, XVII, vi, 167). Dengan mengacu pada taksiran Herodes bahwa bayi yang baru lahir itu tidak lebih dari 2 tahun usianya, maka taksiran intelektual tahun kelahiran Yesus sekitar tahun 4-5 sebelum Masehi.

Kekeliruan penetapan tahun 1 tarikh Masehi oleh imam Italia Dionysius Exiguus yang hidup di abad 6 mengakibatkan kelahiran Yesus tidak terjadi pada tahun 0 (nol) Masehi, Anno Domini (op cit, 1985). Ini berarti 2000 tahun sebelum Yesus lahir adalah tahun 1996; sedangkan tahun 2000 kemarin yang dihebohkan dengan "kutu mileniumnya" tidak lain adalah tahun 2004 setelah Kristus lahir.

*Benyamin Obadyah, Penulis adalah Gembala Sidang GBI Exousia Agape, Jakarta.

Sumber :http://www.bahana-magazine.com/des2001/artikel1.htm