Selasa, 09 April 2013

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati


Amsal 4 : 23 — “ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Secara fisik kita akan dengan cepat belajar mengenai berbagai hal yang bisa menimbulkan rasa sakit terhadap diri kita, yang bisa menghadirkan luka atau penderitaan pada tubuh. Tentu tidak butuh waktu lama bagi kita untuk mengetahui bahwa api, baranya atau bahkan peralatan-peralatan panas lainnya seperti alat panggang menyala atau setrika dapat mengakibatkan luka serius pada bagian tubuh kita apabila terkena.

Kita mengajar anak-anak agar tidak bermain dengan benda-benda tajam seperti gunting, pisau, atau korek api dan sebagainya yang bisa menimbulkan masalah serius baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Dengan kecepatan yang sama pula kita akan mengetahui hal-hal yang bisa menimbulkan kenyamanan atau kenikmatan fisik. Kedua hal itu seringkali menjadi faktor yang paling memotivasi kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Tetapi coba bandingkan dengan belajar menjaga hati kita dari hal-hal yang bisa menimbulkan masalah serius dalam hidup. Banyak orang yang lambat atau bahkan sama sekali tidak kunjung belajar dari pengalaman bahwa kemalasan, kebencian, ketidakjujuran atau kebohongan, rasa putus asa, iri hati, ketakutan, kemarahan dan sejenisnya merupakan 'benda-benda berbahaya' yang dapat pula melukai hidup kita.

Semua 'benda' ini bukan saja tidak produktif tetapi bisa menimbulkan penderitaan untuk waktu yang panjang, bahkan telah menghancurkan masa depan banyak orang dan menimbulkan kesakitan yang tidak sedikit. Tidak banyak dari kita yang akhirnya menyadari sebuah kesimpulan bahwa semuanya akan sangat tergantung dari satu hal, yaitu hati.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menunjukkan seberapa fatalnya akibat yang bisa terjadi jika kita tidak menjaga hati kita dari masuknya 'benda-benda' yang merusak di atas. Mari kita ambil satu contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Kita bisa mengetahui bahwa asal mula terjadinya pembunuhan itu berawal dari rasa iri. Darimana iri itu muncul? Tentu saja dari hati.

Dan Alkitab pun mencatatnya dengan jelas. "Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-NYA. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." Kejadian 4 : 6

Hatinya panas, itu kemudian membuat wajahnya menjadi muram. Ia menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga dengan baik.

Kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada TUHAN. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." Rut 1 : 20

Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil, hati akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita optimis atau pesimis, apakah kita bersukacita atau penuh kepahitan, semua bermuara pada satu hal, yaitu kondisi hati kita.

Firman TUHAN sudah mengingatkan akan pentingnya menjaga hati dari berbagai hal yang merusak. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." Amsal 4 : 23

Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Bahagia tidaknya kita hidup di dunia akan sangat tergantung dari kondisi atau keadaan hati kita, dan itupun akan sangat menentukan kemana kita akan pergi kelak. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan.

Hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya, dan itu bisa kita lihat pula ayatnya. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." Matius 15 : 19
Dan firman TUHAN kemudian berkata: "Itulah yang menajiskan orang." Matius 15 : 20

Ketika kita bertobat dan menerima KRISTUS kita sudah diubahkan menjadi ciptaan baru. 2 Korintus 5 : 17 — “ Jadi siapa yang ada di dalam KRISTUS, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

Hati kita pun ikut diperbaharui sehingga tidak seharusnya segala kepahitan, kekecewaan, keraguan dan keputus-asaan masih bercokol dalam diri kita. Dengan hati yang bersih itulah kita lalu bisa mendekati ALLAH karena hati kita tidak lagi berisi hal-hal yang jahat tetapi penuh dengan iman yang teguh dan ketulusan.

"Karena itu marilah kita menghadap ALLAH dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." Ibrani 10 : 22

Pemulihan hati setelah pertobatan ini pun sudah disinggung dalam kitab Ulangan, "Dan TUHAN, ALLAHmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, ALLAHmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." Ulangan 30 : 6

Satu hal yang harus kita ingat, meski sebentuk hati yang baru sudah diberikan kepada kita, hati tetaplah rentan akan pencemaran. Walaupun sudah dipulihkan dan diperbaharui, kita tetap perlu menjaganya agar tidak kembali kotor seperti sebelumnya. Bagaimana caranya ? Caranya adalah dengan tetap berjalan bersama TUHAN, mengandalkan-NYA dalam setiap langkah dan tetap mengisi hati kita dengan firman-NYA.

"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia ALLAH, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." Ibrani 12 : 15

Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang.

Adalah penting bagi kita untuk terus tekun menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena dari sanalah seluruh kehidupan kita akan terpancar.

Mari terus giat menjaga hati agar kita bisa tetap memiliki hati yang lembut, hati yang mau mengampuni, hati yang tidak kehilangan harapan, hati yang penuh ucapan syukur dan bersukacita, terlebih hati yang mengasihi, lalu pancarkan itu untuk memberkati sesama.

Jangan biarkan berbagai 'benda asing' yang jahat masuk membuat hati kita tercemar, sakit dan bahkan hancur.

Kita bisa memberkati orang lain, bisa pula melukai orang lain.

Kita bisa tetap bersukacita dalam segala situasi dan keadaan, kita bisa gelisah, putus asa dan penuh kebencian.

Semua itu akan sangat tergantung dari bagaimana kondisi hati kita.

Suasana hati akan sangat mempengaruhi kehidupan kita sekarang dan yang akan datang.

TUHAN YESUS Memberkati.

Dikutip dari sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar