Minggu, 17 Juni 2012

Tabut Perjanjian Dirampas



Orang Israel menyangka kunci kemenangan adalah membawa Tabut Perjanjian. Saat mereka membawa Tabut ke medan perang, justru orang Filistin berhasil merampas Tabut itu. Mengapa hal ini terjadi ?

1 SAMUEL 4 : 2 - 3
4:2 Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.
4:3 Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita."

Apa yang dihadapi oleh orang Israel pada ayat di atas sama seperti yang kita alami : seringkali musuh menghadang kita. Banyak orang yang mengukur kualitas kekristenan seseorang dengan melihat besar kecilnya tantangan atau musuh yang dihadapinya. Jika tantangan atau musuh yang dihadapi sangat besar atau berat, berarti kualitas kekristenan orang itu sedang merosot. Sedangkan jika kondisinya baik-baik saja dan tantangan yang dihadapi tidak terlalu besar, dinilai kualitas kekristenannya sangat baik. Padahal hal-hal seperti ini bukan tolok ukur yang tepat untuk menilai kualitas kekristenan.

Yang benar adalah setiap orang menghadapi musuh (persoalan), tetapi orang Kristen yang beriman teguh akan memiliki kemampuan mengatasi dan mengalahkan persoalan tersebut. Tetapi orang Kristen yang imannya lemah akan dikalahkan musuh atau persoalan yang dihadapinya.

Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah orang Israel hingga kalah dan empat ribu pasukan Israel ditewaskan oleh orang Filistin. Hal ini merupakan hal yang tidak normal. Seharusnya orang Israel tidak terkalahkan, sebab mereka umat pilihan ALLAH. Tetapi mengapa orang Israel justru kalah ?

Setelah segenap tentara Israel kembali ke perkemahan, mereka menemui tua-tua Israel. Tujuannya adalah untuk bertanya tentang penyebab kekalahan mereka. Dengan lain kata, mereka mau mengkoreksi diri. Tetapi sangat disayangkan, ternyata mereka mengkoreksi diri dengan cara yang salah. Hal ini tercermin dari perkataan tua-tua Israel : "Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini ?" Mereka menyalahkan TUHAN atau menganggap TUHAN yang mendatangkan kekalahan itu. Padahal, kekalahan itu disebabkan adanya dosa di antara mereka. Karena analisa atau cara koreksi yang mereka lakukan salah, maka tindakan selanjutnya pun semakin salah. Tindakan yang akan mereka lakukan adalah pergi ke Silo untuk mengambil Tabut TUHAN atau Tabut Perjanjian.

Jangan mengkambing-hitamkan TUHAN dalam kekalahan kita seperti orang Israel ini. Penyebab kekalahan itu adalah dosa yang masih kita simpan atau lakukan. Koreksilah diri dengan cara yang benar agar tindakan kita selanjutnya juga benar.

1 SAMUEL 2 : 12 - 14
2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,
2:13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya
2:14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo.

Ternyata biang kekalahan orang Israel pada saat itu karena anak-anak Eli yang menjadi imam di Silo merupakan orang dursila. Mereka tidak menghormati TUHAN, sehingga sudah tidak ada lagi kekudusan di dalam bait ALLAH. Anak-anak Eli tidak menghargai korban sembelihan yang diperuntukkan bagi ALLAH. Mereka menggunakan garpu tiga gigi untuk mengambil daging yang dipersembahkan bagi ALLAH itu untuk mereka nikmati. Imam Eli tidak mampu menasehati anak-anaknya itu sehingga ia pun berdosa di hadapan TUHAN.

Sangat penting bagi kita untuk mencari gereja yang benar-benar berjalan dalam Firman TUHAN. Jika tidak, bagaimana mungkin kita dapat meraih kemenangan jika imamnya masih hidup di dalam dosa.

Ayat 14 mengatakan, "...Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri..." berarti korban persembahan orang Israel tidak sampai kepada ALLAH. Inilah yang akan kita alami apabila kita beribadah di gereja yang sembarangan : persembahan kita tidak sampai kepada ALLAH.

1 SAMUEL 4 : 4 - 5
4:4 Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.
4:5 Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.

Kekalahan perang telah membuat mereka berinisiatif mengambil Tabut Perjanjian, kemudian membawanya ke perkemahan tentara Israel. Mereka menugaskan orang untuk mengambil Tabut Perjanjian itu. Padahal TUHAN telah menetapkan aturan, yang boleh mengangkat Tabut perjanjian adalah para imam yang telah dikhususkan TUHAN. Mereka sudah bertindak ceroboh. Saat itu kedua anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas ada di dekat Tabut Perjanjian TUHAN. Namun ketika Tabut Perjanjian diangkat dan dibawa ke medan perang, Hofni dan Pinehas tidak melarang perbuatan orang Israel itu. Mengapa hal ini terjadi ? Karena Hofni dan Pinehas juga sedang dalam posisi berdosa, sehingga tidak mampu melarang perbuatan orang Israel tersebut.

Perbuatan orang Israel ini menggambarkan kehidupan jemaat yang masih hidup dalam dosa yang melakukan ibadah berdasarkan kehendaknya sendiri. Dan ironisnya, justru hamba TUHAN - yang hidupnya juga masih penuh dosa - membiarkan jemaat yang beribadah dengan caranya sendiri. Bukan hal aneh jika dalam gereja yang bertipe seperti itu tidak ada kerukunan. Pertengkaran terjadi antar jemaat, bahkan antar pelayan TUHAN. Akibatnya jemaat menjadi liar dan selalu mengalami kekalahan yang disebabkan hidup yang jauh dari TUHAN.

Ketika Tabut Perjanjian tiba di medan peperangan, segenap orang Israel bersorak dengan suara nyaring hingga bumi bergetar. Tindakan mereka merupakan tindakan yang salah. Seharusnya ketika orang Israel melihat bahwa yang mengangkat Tabut Perjanjian bukan imam, mereka tidak bersorak-sorai melainkan meratap. Sebab apa yang dilakukan oleh orang yang pergi ke Silo itu melanggar peraturan yang diberikan TUHAN kepada mereka.

1 SAMUEL 4 : 10 - 11
4:10 Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki.
4:11 Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas

Sebelum Tabut Perjanjian dibawa ke medan pertempuran, kekalahan terjadi pada pihak orang Israel dan empat ribu orang tewas. Setelah Tabut Perjanjian tiba di medan perang, orang Israel yang tersisa berpikir bahwa kemenangan pasti ada di pihak mereka. Tanpa ada penyelesaian dosa dengan TUHAN, mereka kembali kalah ketika mereka melawan orang Filistin. Kali ini tiga puluh ribu tentara Israel tewas. Hal ini terjadi karena bangsa Israel memiliki analisa yang salah sehingga mengambil tindakan salah pula, yakni mengambil Tabut ALLAH.

Seringkali kita hanya meng-ilah-kan simbol kekristenan saja. Bangsa Israel menganggap Tabut Perjanjian seperti "jimat", padahal Tabut Perjanjian ini melambangkan kehadiran ALLAH di tengah-tengah umat Israel. Ketika menghadapi peperangan, jangan hanya membawa simbolnya saja tanpa mengenal ALLAH dengan baik. Dengan kata lain kita hanya mengkultuskan simbol saja.

Contohnya, kala kita merasa takut berada di rumah sendirian, kita mencoba mengatasinya bukan dengan datang kepada ALLAH melainkan hanya dengan cara memasang salib di dinding. Contoh lainnya, banyak orang Kristen yang dalam segala hal selalu menggunakan minyak urapan dan Perjamuan Kudus, tetapi hidupnya tidak diurapi dan dikuasai oleh TUHAN. Ada juga yang mengkultuskan Alkitab, tetapi isi Firman-NYA tidak dimasukkan ke dalam hati. Itu seperti orang Israel yang mengusung Tabut Perjanjian ke medan perang, namun mereka masih hidup dalam dosa.

Bangsa Israel memiliki sudut pandang yang salah. Dan lebih celakanya lagi, imam tidak mengarahkan mereka ke jalan yang benar dan mereka malah ikut hidup di dalam pandangan yang salah tersebut. Itu sebabnya mereka mengalami kekalahan yang menelan tiga puluh ribu jiwa yang tewas. Tidak hanya sampai di situ, Tabut Perjanjian pun dirampas oleh orang Filistin dan kedua anak imam Eli tewas.

1 SAMUEL 5 : 1 - 2
5:1 Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod.
5:2 Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon.

Ternyata pandangan orang Filistin tentang Tabut Perjanjian tidak berbeda dengan pandangan orang Israel. Mereka menganggap bahwa orang Israel selalu mengalami kemenangan karena Tabut Perjanjian. Itu sebabnya orang Filistin merampas Tabut Perjanjian dengan harapan mereka juga akan meraih kemenangan yang sama. Orang Filistin menyimpan Tabut Perjanjian di kuil Dagon dengan harapan jika Tabut Perjanjian dikombinasikan dengan dewa-dewa yang mereka miliki pasti akan lebih besar kekuatannya.

1 SAMUEL 5 : 3 - 4
5:3 Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya.
5:4 Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.

Ketika Tabut dibawa ke kuil Dagon, Tabut Perjanjian diletakkan di sisi Dagon atau tepat di samping patung Dagon. Keesokan paginya ditemukan bahwa patung Dagon tersebut terjatuh dengan mukanya ke tanah menghadap tabut TUHAN. Secara logika, posisi jatuhnya patung Dagon tidak masuk akal. Seharusnya patung tersebut jatuh dengan posisi kepalanya di depan dan tumpuan kakinya di samping Tabut Perjanjian. Tetapi karena kuasa ALLAH, patung tersebut jatuh terbalik dengan posisi kepala menghadap Tabut TUHAN. Hal ini membuktikan bahwa kuasa gelap bertekuk lutut di hadapan ALLAH.

Karena itu jangan pernah menyandingkan kuasa gelap dengan ALLAH. Sebab walau bagaimanapun, kuasa gelap pasti akan bertekuk lutut di hadapan ALLAH. Buktinya, di mana pun YESUS berada, setiap kuasa gelap yang merasuki seseorang pasti akan bertekuk lutut dihadapan-NYA. Jadi, jika ada orang Kristen yang mencari berhala, ia adalah orang yang sangat bodoh. Sebab terbukti bahwa dewa orang Filistin terjatuh dan tidak dapat bangun sendiri. Bahkan untuk dapat bangun kembali, orang Filistin harus membangunkan patung tersebut. Dengan kata lain, orang Filistin "menolong" allahnya atau dewanya untuk dapat bangun kembali. Padahal yang perlu ditolong adalah manusia, dan tidak ada seorang pun yang mampu menolong ALLAH. Logikanya, jika dewa orang Filistin tidak dapat bangun sendiri, bagaimana mungkin mampu menolong manusia ? Tetapi banyak orang Kristen yang justru lebih mempercayai berhala dari pada mempercayai ALLAH.

Setelah patung itu jatuh, orang Filistin membangunkan patung Dagon kembali dan menempatkannya lagi di sisi Tabut Perjanjian. Namun keesokan harinya patung Dagon terjatuh di hadapan Tabut untuk kedua kalinya, bahkan kepala dan tangannya sampai terpenggal dan terpental. Jika demikian jangan di antara kita lebih tertarik untuk menyembah berhala yang tidak mampu menolong dirinya sendiri.

Banyak jemaat yang memiliki pemahaman yang kurang tepat. Mereka berpikir bahwa kuasa ALLAH dapat dikombinasikan dengan kuasa yang lain. Contohnya, ada jemaat yang meminta mendoakan kenalan atau temannya yang sakit atau dalam masalah, namun orang itu belum percaya kepada YESUS. Bagaimana mungkin ia dapat memperoleh pertolongan TUHAN jika belum percaya kepada TUHAN ? Seharusnya orang itu percaya dan menerima YESUS terlebih dahulu, setelah itu baru dapat didoakan dan menerima pertolongan TUHAN. Sebab jika orang tersebut belum percaya kepada TUHAN, setelah didoakan oleh hamba TUHAN, ia juga akan mencari pertolongan dari kuasa lain. TUHAN tidak ingin diduakan. Jadi jangan pernah mencampur ibadah kepada TUHAN YESUS KRISTUS dengan ibadah kepada yang lain.

1 SAMUEL 5 : 6 - 8
5:6 Tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya.
5:7 Ketika dilihat orang-orang Asdod, bahwa demikian halnya, berkatalah mereka: "Tabut Allah Israel tidak boleh tinggal pada kita, sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon, allah kita."
5:8 Sebab itu mereka memanggil berkumpul kepadanya semua raja kota orang Filistin dan berkata: "Apakah yang akan kita lakukan dengan tabut Allah Israel itu?" Lalu kata mereka: "Tabut Allah Israel harus dipindahkan ke Gat." Jadi mereka memindahkan tabut Allah Israel itu ke sana.

ALLAH itu sangat kudus dan sangat membenci dosa, jadi jika ingin memperoleh pertolongan dari TUHAN, buanglah terlebih dahulu segala dosa kita dari hadapan-NYA. Orang Filistin (gambaran orang berdosa) mencoba untuk menyimpan Tabut Perjanjian yang direbutnya. Yang terjadi justru mereka mengalami borok-borok. Berarti jika kita menggabungkan kuasa ALLAH dengan kuasa setan, yang terjadi adalah bukan mendatangkan kesembuhan atau solusi melainkan sakit penyakit (borok-borok) dan kutuk di dalam hidup kita.

Karena tidak tahan menerima tekanan ALLAH, orang Filistin mengembalikan Tabut Perjanjian ke Israel. Dengan kata lain, mereka lebih memilih allah Dagonnya daripada ALLAH. Manakah yang kita pilih : menyembah ALLAH atau berhala ? Kita tidak bisa menggabungkan keduanya. Jika melakukan hal ini, justru kita akan ditimpa celaka.

1 SAMUEL 7 : 3
Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-NYA; maka IA akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin."

Dalam pertempuran kedua melawan Filistin, Hofni dan Pinehas mati. Ketika imam Eli mendapat kabar bahwa kedua anaknya telah mati di medan perang, Eli sangat terkejut hingga terjatuh dan mati. Yang menjadi pengganti imam Eli sebagai imam ialah Samuel. Ia adalah seorang imam yang benar di hadapan ALLAH, sehingga ALLAH mulai menyatakan Firman-NYA kepada Israel. IA memberikan petunjuk agar mereka menang dari Filistin. Petunjuk-NYA : membuang segala bentuk penyembahan berhala dan kembali menyembah ALLAH.

Jika ingin meraih kemenangan, buang segala dosa dan milikilah kemauan untuk mendengar dan mentaati Firman TUHAN. Milikilah komitmen yang kuat dalam mengikut DIA, dan menghambakan diri kepada ALLAH dengan sepenuh hati. Tak mungkin seseorang memiliki dua tuan : ALLAH dan berhala. Dengan demikian kita pasti memperoleh kemenangan dari TUHAN. Ini jaminan bagi setiap orang yang mau berbalik kepada ALLAH dengan sungguh-sungguh. Sebesar apa pun musuh kita, itu tidak akan pernah dapat mengalahkan ALLAH kita.

Seorang jemaat memiliki anak yang baru berusia dua bulan yang menderita batu ginjal dan air seninya sudah bercampur darah. Jemaat ini minta Hamba Tuhan untuk mendoakan anaknya ini. Tiga hari setelah didoakan, anaknya dapat kencing dengan normal. Dan pada pemeriksaan tidak ditemukan kedua batu yang sebelumnya terdeteksi. Anak tersebut telah sehat kembali.

Jadi ketika menghadapi "Filistin", jangan melihat seberapa besar "Filistin" yang kita hadapi, tetapi lihatlah posisi kita saat itu. Jika kita sudah tidak hidup dalam dosa, kemenangan demi kemenangan kita alami.

1 SAMUEL 7 : 4 - 5
7:4 Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.
7:5 Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN."

Hidup imam Eli dan kedua anaknya yang tidak sesuai Firman mempengaruhi seluruh umat Israel, sehingga mereka menyembah Baal dan Asytoret. Tetapi ketika Samuel bangkit sebagai imam, seluruh Israel mendengarkan semua perkataan TUHAN yang disampaikan melalui Samuel dan mereka mulai meninggalkan Baal. Setelah membuang berhala dan dosa, barulah Samuel berdoa bagi Israel. Inilah yang menjadi landasan dan metode yang benar untuk dapat berdoa dengan efektif.

Jika kita belum menyelesaikan dosa, jangan pernah beranggapan bahwa doa kita akan didengar. Itu sebabnya jika ada jemaat yang membawa orang lain kepada Pendeta untuk didoakan, Pendeta akan menanyakan terlebih dahulu apakah ia sudah percaya kepada TUHAN YESUS atau belum.

1 SAMUEL 7 : 10 - 13
7:10 Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.
7:11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar.
7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita."
7:13 Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel,

Segenap rakyat Israel mengaku dosa di hadapan ALLAH dan Samuel pun mendoakan mereka. Tetapi ketika Samuel mempersembahkan korban kepada ALLAH, orang Filistin maju menyerang Israel. Kali ini kondisinya berbalik : Israel menang !!! Jangan kaget bila musuh menyerang, padahal kita baru saja membuang dosa. Sebab sekalipun musuh menyerang, namun dapat dikalahkan oleh kuasa ALLAH. Pada saat itu ALLAH mengacaukan Filistin sehingga orang Israel dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Bukan ALLAH yang mengalahkan Filistin; ALLAH mengacaukan Filistin, dan Israel yang mengalahkannya. Artinya, orang Israel tidak tinggal diam. Mereka menyerang Filistin di dalam pimpinan TUHAN. Yang menjadi pemenang atas Filistin adalah orang Israel, dan bukan TUHAN. Sebab TUHAN sudah menang.

Jika hingga hari ini kita masih dipermalukan oleh persoalan, itu semua bukan disebabkan oleh TUHAN. Sebab IA tidak pernah membiarkan kita kalah, jika hidup kita benar di hadapan TUHAN dan menjauhi dosa.

Setelah orang Israel meraih kemenangan dari orang Filistin, Samuel mendirikan batu peringatan antara Mizpa dan Yesana, dan menamainya "Eben-Haezer" yang memiliki arti sampai sejauh ini ALLAH menolong kita. Sejauh kita hidup di dalam kebenaran dan meninggalkan dosa, sejauh itu juga pertolongan-NYA ditunjukkan bagi kita.

Setelah orang Filistin ditundukkan orang Israel, dan mereka tidak lagi memasuki daerah Israel. Dan Tangan TUHAN melawan orang Filistin selama hidup Samuel. Tempat ibadah umat Israel tetap di Silo. Namun imam Samuel yang taat Firman berbeda imam-imam pendahulunya, imam Eli dan anak-anaknya yang hidup dalam dosa. Sikap yang berbeda membawa hasil yang jauh berbeda. Anak TUHAN atau Hamba TUHAN yang taat kepada ALLAH, ia akan selalu meraih kemenangan, Amin.